Showing posts with label Pesantren. Show all posts
Showing posts with label Pesantren. Show all posts


RATIB AL HADDAD
Ada yang belum tahu Ratib Al Haddad?
Ratib al Haddad terambil dari nama penyusunnya, yaitu al Habib Abdullah bin Alawi bin Muhammad al Haddad seorang ulama' besar yang karismatik, reformis (mujaddid) abad 11 H, yang lahir pada malam Senin, bulan Safar 1044 H, di kota Tarim Hadramaut Yaman. Ibu beliau bernama Sayyidah Salma binti Idrus bin Ahmad Alhabsyi, Kakek beliau adalah Syekh Idrus seorang ulama karismatik dan tokoh terpandang saat itu. Neneknya Sayyidah Salma binti Umar bin Ahmad Al 'Alawi termasuk wanita ahli ibadah. Kedua orang tuanya wafat di bulan dan tahun yang sama, ayahnya Sayyid Alawi wafat pada malam Senin, 21 Rajab 1072 H, dan empat hari kemudian disusul ibunya pada hari Rabu, 24 Rajab 1072 H.
Semasa hidup, Al-Habib senang dan aktif menghadiri kajian ilmu agama, diskusi, dan riset ilmu pengetahuan Islam. Pada setiap forum kajian, beliau paling jenius dan cerdas dalam menganalisa, setiap berbicara pendengar terpesona dengan ucapan-ucapannya dan kagum terhadap pendapat-pendapatnya, sehingga beliau dijadikan panutan umat. Beliau dikenal sebagai penulis yang ulung dalam tulisan-tulisannya, terutama di bidang tassawuf dan akhlak yang sangat terkesan dan memikat. Karya-karya beliau antara lain: An Nashaihud Diniyyah, Aqidatul Islam, Al Mukhtar minal Fatawa, dan lain sebagainya.
Beliau banyak mencetak ulama dan da’i yang menjadi panutan umat sepanjang masa, menciptakan berbagai karya tulis yang bagus dan indah, sarat dengan hikmah, bermanfaat untuk dikaji dan dibaca. Adapun kumpulan do'a dan dzikirnya yang terkenal adalah Ratib al-Haddad dan Wirdul Lathif yang dijadikan amalan rutin mayoritas muslim di Indonesia, Asia, Australi, Afrika bahkan di Amerika.
Imam Abdullah Al Haddad wafat pada hari senin, 7 Dzulqa'dah 1132 H. Dalam usia 89 tahun kurang 3 bulan. Beliau dimakamkan di Zambal, Tarim tempat pemakaman keluarga dan leluhurnya. Imam Abdullah Al Haddad meninggalkan 10 anak, di antaranya 6 laki-laki dan 4 perempuan, mereka semua menjadi orang-orang yang shaleh dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama Imam Muhammad bin Abdullah bin Alawi Al Haddad. Sayyid Ahmad bin Zein Al Habsyi mengatakan bahwa ketika beliau wafat, yang menshalatkan jenazah Imam Abdullah Al Haddad kurang lebih berjumlah 20.000 orang di dalam masjid dan belum terhitung yang menshalatkan di makam beliau.
 Deskripsi Tradisi Ratib al Haddad
Lafadz Ratib al-Haddad mempunyai banyak arti yang diantaranya berarti mengatur atau menyusun. Ratib adalah sesuatu yang tersusun, teratur dengan rapi. Itu berarti bahwa Ratib al Haddad adalah sebuah bacaan yang tersusun rapi, sedang al-Haddad adalah nama dari pencetusnya. Ratib al Haddad disusun pada malam lailatul Qodar 27 Romadhon 1071 H yang bermula dari adanya permintaan seorang murid al-Habib yang bernama Amir dari keluarga Bani Sa’ad yang tinggal di Syibam salah satu perkampungan di Hadromaut Yaman. Tujuan Amir meminta Habib Abdullah mengarang Ratib adalah agar diadakan suatu wirid dan dzikir dikampungnya, agar mereka dapat mempertahankan dan menyelamatkan diri dari ajaran sesat yang sedang melanda Hadromaut ketika itu. Untuk pertama kalinya Ratib al Haddad hanya dibaca dikampung Amir setelah mendapat izin dan ijazah dari al Habib Abdullah bin Alawi al Haddad. Selepas itu, Ratib ini pun dibaca juga di masjid al-Hawi milik beliau (al-Habib) yang terletak di kota Tarim dan biasanya dibaca secara berjamaah setelah sholat isya’. Dan khusus pada bulan Ramadhan, Ratib dibaca sebelum sholat isya‘, ini adalah waktu yang telah ditartibkan al Habib Abdullah bin Alawi al Haddad untuk kawasan-kawasan yang mengamalkan Ratib. Akan tetapi bagi yang gemar berdzikir banyak, diperbolehkan untuk membacannya di waktu pagi dan sore, sebab di antara kalimat-kalimat yang didzikirkan ada dzikir-dzikir yang disunnahkan untuk membacanya di waktu pagi dan di waktu sore seperti tertera di dalam hadis-hadis Nabi s.a.w. Dengan izin Allah, kawasan-kawasan yang mengamalkan Ratib ini selamat dan tidak terpengaruh dari kesesatan tersebut. Setelah al-Habib Abdullah bin Alwi al Haddad berangkat menunaikan ibadah Haji Ratib al Haddad mulai dibaca di mekkah dan madinah. al Habib Ahmad bin Zain al-Habsyi berkata , “Barang siapa yang membaca Ratib al Haddad dengan penuh keyakinan dan iman, ia akan mendapat sesuatu yang diluar dugaannya”.
ó Lafadz-lafadz yang di baca dalam Ratib al Haddad
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. آمِيْنِ
Diriwayatkan oleh Abu Sa’id ibn al-Mu’lla r.a.: “Sukakah kamu jika aku ajarkan sebuah Surah yang belum pernah diturun dahulunya, baik dalam Injil maupun Zabur dan Taurat? Ia adalah Al-Fatihah.
Surah 15 Al-Hijr : Ayat 87: “Dan sesungguhnya Kami telah memberi kepadamu (wahai Muhammad) tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dan seluruh Al-Quran yang amat besar kemuliaan dan faedahnya.”
اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ.
Ayat Kursi ini mengandung khasiat yang besar. Terdapat 99 buah hadith yang menerangkan fadhilahnya. Di antaranya ialah untuk menolak syaitan, benteng pertahanan, melapangkan fikiran dan menambahkan iman.
آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّه وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْناَ وَأَطَعْناَ غُفْراَنَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ.
Diriwayatkan daripada Abu Mas'ud al-Badri r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, memberikan manfaat kepada seseorang yang membacanya pada malam hari sebagai pelindung dirinya.
لاََ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نَسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنآ أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْناَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah ibn Abbas r.a.: Apabila Jibril sedang duduk dengan Rasulullah s.a.w., dia mendengar bunyi pintu di atasnya. Dia mengangkat kepalanya lalu berkata: “Ini ialah bunyi sebuah pintu di surga yang tidak pernah dibuka.” Lalu satu malaikat pun turun, dan Jibril berkata lagi, “Ia malaikat yang tidak pernah turun ke bumi” Malaikat itu memberi salam lalu berkata, “Bersyukurlah atas dua cahaya yang diberi kepadamu yang tidak pernah diberi kepada rasul-rasul sebelummu-“Fatihat al-Kitab dan ayat penghabisan Surah al-Baqarah”. Kamu akan mendapat manfaat setiap kali kamu membacanya.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. (3X)
Dari Bukhari, Muslim dan Malik, diriwayatkan dari Abu Hurairah; Rasulullah s.a.w berkata, “Barangsiapa membaca ayat ini seratus kali sehari, pahalanya seperti memerdekakan sepuluh orang hamba.
سٌبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اْللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. (3X)
Dari Muslim, diriwayatkan oleh Samurah ibn Jundah: Rasulullah s.a.w bersabda: dzikir-dzikir yang paling dekat di sisi Allah ada empat, diantarnya tasbih, takbir, tahmid dan tahlil.
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحاَنَ اللهِ الْعَظِيْمِ. (3X)
Dari Bukhari, diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.: Rasulullah s.a.w. bersabda: Dua dzikir yang mudah di atas lidah tetapi berat pahalanya dan disukai oleh Allah ialah: 'SubhanAllah al-Azim dan 'SubhanAllah wa bihamdihi.'”
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. (3X)
Surah 4: An-Nisa’; Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon ampun kepada Allah; kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ. (3X)
Surah 33; Al-Ahzab, Ayat 56: Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat atas Nabi saw; wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan yang sepenuhnya.
Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershlawat kepadanya sepuluh kali.
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ. (3X)
Dari Abu Daud dan Tirmidzi, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang membaca doa ini tiga kali, tiada malapetaka apapun yang akan terjatuh atasnya.”
بِسْـمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُـرُّ مَعَ اسْـمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي الْسَّمَـآءِ وَهُوَ الْسَّمِيْـعُ الْعَلِيْـمُ(3X)
Dari Ibn Hibban; Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Hamba-hamba Allah yang membaca doa ini pada waktu pagi dan petang tiga kali, tidak ada kesakitan apapun yang akan dialaminya.”
رَضِيْنَـا بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْـلاَمِ دِيْنـًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيّـًا. (3X)
Surah 3: Ali-Imran Ayat 19: Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam.
Dari Abu Daud dan Tirmidzi; Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesiapa membaca ayat ini di pagi dan petang hari akan masuk ke syurga.”
بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْخَيْرُ وَالشَّـرُّ بِمَشِيْئَـةِ اللهِ. (3X)
Diriwayatkah oleh Abu Hurairah: Rasulullah s.a.w. bersabda: Wahai Abu Hurairah, bila kamu keluar negeri untuk berniaga, bacakan ayat ini supaya ia membawa kamu ke jalan yang benar. Dan setiap perbuatan mesti bermula dengan ‘Bismillah’ dan penutupnya ialah “Alhamdulillah”.
آمَنَّا بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ تُبْناَ إِلَى اللهِ باَطِناً وَظَاهِرًا. (3X)
Surah at-Tahrim Ayat 8: Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kamu kepada Allah dengan “Taubat Nasuha”.
Diriwayatkan oleh Ibn Majah: Rasulullah bersabda: Orang yang bertaubat itu adalah kekasih Allah. Dan orang yang bertaubat itu ialah perumpamaan orang yang tidak mempunyai dosa.”
يَا رَبَّنَا وَاعْفُ عَنَّا وَامْحُ الَّذِيْ كَانَ مِنَّا. (3X)
Dari Tirmidzi dan Ibn Majah: Rasulullah s.a.w. berada di atas mimbar dan menangis lalu beliau bersabda: Mintalah maaf dan kesehatan daripada Allah, sebab setelah kita yakin, tiada apa lagi yang lebih baik daripada kesehatan.
Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon keampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”
ياَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْراَمِ أَمِتْناَ عَلَى دِيْنِ الإِسْلاَمِ. (7X)
Dan dari Tirmidzi, Rasulullah s.a.w. menyatakan di dalam sebuah hadis bahawasanya siapa yang berdoa dengan nama-nama Allah dan penuh keyakinan, doa itu pasti dikabulkan Allah.
ياَ قَوِيُّ ياَ مَتِيْـنُ إَكْفِ شَرَّ الظَّالِمِيْـنَ. (3X)
Seperti di atas, Merujuk hadith Rasulullah s.a.w, Barangsiapa kesulitan mengalahkan musuhnya, dan mengulangi Nama ini dengan niat tidak mau dicederakan, maka ia akan bebas dari dicederakan musuhnya.
أَصْلَحَ اللهُ أُمُوْرَ الْمُسْلِمِيْنَ صَرَفَ اللهُ شَرَّ الْمُؤْذِيْنَ. (3X)
Diriwayatkan oleh Abu Darda’ bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada seorang mukmin pun yang berdoa untuk kaumnya yang tidak bersamanya, melainkan akan didoakan oleh Malaikat, “Sama juga untukmu”.
يـَا عَلِيُّ يـَا كَبِيْرُ يـَا عَلِيْمُ يـَا قَدِيْرُ
يـَا سَمِيعُ يـَا بَصِيْرُ يـَا لَطِيْفُ يـَا خَبِيْرُ. (3X)
Surah 17: Al Israil: Ayat 110: “Katakanlah (wahai Muhammad): "Serulah nama “Allah” atau “Ar-Rahman”, yang mana saja kamu serukan; kerena Allah mempunyai banyak nama yang baik serta mulia. Dan janganlah engkau nyaringkan bacaan doa atau sembahyangmu, juga janganlah engkau perlahankannya, dan gunakanlah satu cara saja yang sederhana antara itu."
ياَ فَارِجَ الهَمِّ يَا كَاشِفَ الغَّمِّ يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ. (3X)
Dari Abu Daud, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik: “Ketika saya bersama Rasulullah s.a.w., ada seseorang berdoa, “Ya Allah saya meminta karena segala pujian ialah untuk-Mu dan tiada Tuhan melainkan-Mu, Kamulah Pemberi Rahmat dan yang Pengampun, Permulaan Dunia dan Akhirat, Maharaja Teragung, Yang Hidup dan Yang Tersendiri”.
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dia berdoa kepada Allah menggunakan sebaik-baik nama-nama-Nya, Allah akan mengabulkannya karena apabila diminta dengan nama-nama-Nya Allah akan memberi.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَ الْخَطَاياَ.(4X)
Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon ampunan dari Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Pengasih.”
Surah 11: Hud: Ayat 90: “Dan mintalah ampunan Tuhanmu, kemudian kembalilah taat kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengasihani, lagi Maha Pengasih”
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ وَمَجَّدَ وَعَظَّمَ وَرَضِيَ اللهُ تَعاَلَى عَنْ آلِ وَأَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ (50X)
Komentar tentang kalimaT tauhid sangat panjang. Kalimat “La ilaha illallah” ini adalah kunci surga. Diriwayatkan oleh Abu Dzar bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah tidak membenarkan seseorang masuk ke neraka jikalau dia mengucapkan kalimah tauhid ini berulang-ulang kali.”
قُلْ هُوَ اللهُ أَحَـدٌ. اَللهُ الصَّمَـدُ. لَمْ يَلِـدْ وَلَمْ يٌوْلَـدْ. وَلَمْ يَكُـنْ لَهُ كُفُـوًا أَحَـدٌ (3X)
Dari Imam Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-khudri; seseorang mendengar bacaan surah al-Ikhlas berulang-ulang di masjid. Pada keesokan paginya dia datang kepada Rasulullah s.a.w. dan sampaikan perkara itu kepadanya sebab dia menyangka bacaan itu tidak cukup dan lengkap. Rasulullah s.a.w berkata, “Demi tangan yang memegang nyawaku, surah itu seperti sepertiga al Quran!”
Dari Al-Muwatta', diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Saya sedang berjalan dengan Rasulullah s.a.w, lalu baginda mendengar seseorang membaca surah al-Ikhlas. Baginda berkata, “Wajiblah.” Saya bertanya kepadanya, “Apa ya Rasulallah?” Baginda menjawab, “Syurga” (Wajiblah syurga bagi si pembaca itu).
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد
Diriwayatkan dari Aisyah r.a beliau berkata: Rasulullah s.a.w biasanya apabila ada salah seorang anggota keluarga baginda yang sakit, baginda menyemburnya dengan membaca bacaan-bacaan. Sementara itu, ketika baginda menderita sakit yang menyebabkan baginda wafat, aku juga menyemburkan baginda dan mengusap baginda dengan tangan baginda sendiri, kerana tangan baginda tentu lebih banyak berkatnya daripada tanganku.
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ، مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.
Dari Tirmidzi diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Nabi Muhammad s.a.w selalu meminta perlindungan dari kejahatan jin dan perbuatan hasud manusia. Apabila surah al-falaq dan an-nas turun, baginda ketepikan yang lain dan membaca ayat-ayat ini saja.
ó Rahasia Bilangan Ratib al Haddad
Setiap ayat, do’a, dan nama Allah yang disebutkan dalam Ratib dipetik dari Al Qur’an dan Hadits Rasul SAW . Bilangan bacaan disetiap doa dibuat sebanyak tiga kali, tujuh kali, dan seterusnya, semua ini berdasarkan petunjuk al Habib Abdullah bin Alawi al Haddad. Beliau menyusun dzikir-dzikir yang pendek dan di baca berulang kali dengan tujuan agar memudahkan pembacaannya, dzikir yang pendek ini jika selalu dibaca secara istiqomah, maka lebih utama dari pada dzikir yang panjang yang tidak dibaca secara istiqomah. Dan perlu diketahui bahwa setiap ayat, do’a, dan nama Allah yang disebutkan dalam Ratib al Haddad dipetik dari Al-Qur’an dan Hadits Rasul SAW. Sedang Menurut KH. Abdullah Faqih, jumlah bilangan yang ada pada setiap lafadz Ratib al-Haddad merupakan pengibaratan dari sebuah ruangan yang tertutup, bagi orang yang mau memasukinya ia membutuhkan sebuah kunci, dan geratan-geratan yang ada pada kunci itu adalah jumlah bilangan bacaan yang ada pada Ratib al Haddad. Selain itu, dalam pengamalan Ratib al-Haddad, beliau berpegang pada apa yang ada dalam kitab”حصن الحصين”.
ó Fadhilah Membaca Ratib al Haddad
Sejumlah ulama ahli salaf Berkata: “Antara keutamaan ratib ini bagi mereka yang tetap mengamalkannya, adalah dipanjangkan umur, mendapat Husnul-Khatimah, menjaga segala kepunyaannya di laut dan di bumi dan senantiasa berada dalam perlindungan Allah.” Dan dikatakan juga bagi siapapun yang mempunyai hajat tertentu, maka bacalah ratib di tempat yang kosong dan sunyi dengan sebelumnya berwudlu, menghadap kiblat dan berniat apa kehendaknya, Insyaallah hajatnya akan terkabul. Para Ulama salaf banyak yang berkata bahwa Ratib al Haddad sangatlah Mujarab dalam menyampaikan segala permintaan jika dibacanya sebanyak 41 kali.
Adapun kelebihan lain dari Ratib al Haddad adalah, menjaga rumah pembacanya dan 40 rumah tetangganya yang berdekatan dengan rumah si pembaca dari kebakaran, pencurian dan sihir. As-Syeikh Ali Baras berkata: “Apabila dibaca dalam suatu kampung atau suatu tempat, ia mengamankan ahlinya seperti dijaga oleh 70 pahlawan yang bekuda. Ratib ini mengandung rahasia-rahasia yang bermanfaat. Mereka yang tetap mengamalkannya akan diampunkan Allah dosa-dosanya sebanyak buih di laut.”
Bagi mereka yang terkena sihir dan membaca ratib, Insya-Allah diselamatkan Allah dengan berkat Asma’ Allah, ayat-ayat al-Quran dan amalan Nabi Muhammad s.a.w. Al-Habib Husain bin Abdullah bin Muhammad bin Muhsin bin Husain al-Attas berkata: “Mereka yang mengamalkan ratib dan terpatuk ular niscaya tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya. Bagi orang yang takut niscaya akan selamat dari segala yang ditakuti. Hal ini terbukti dengan adanya seorang yang diserang oleh 15 orang pencuri namun karena ia istiqamah mengamalkan Ratib alhamdulillah Allah memberikannya keselamatan.”
 Tradisi Membaca Ratib al-Haddad yang berkembang di Masyarakat Lamongan.
Untuk penelitian mengenai tradisi membaca Ratib al-Haddad di Lamongan, di sini akan difokuskan di desa Pucuk dan PP. Langitan yang merupakan salah satu pondok salaf terbesar di Jawa Timur. Pondok ini berdiri di bawah naungan tokoh terkenal KH. Abdullah Faqih yang berada kira-kira empat ratus meter sebelah selatan ibukota Kecamatan Widang, atau kurang lebih 30 km sebelah selatan Kabupaten Tuban, juga berbatasan dengan kecamatan Babat Kabupaten Lamongan dengan jarak kira-kira satu kilo meter. Kegiatan membaca Ratib al-Haddad di pondok ini biasanya dilaksanakan pada setiap kamis terakhir bulan safar, yang mana hari itu merupakan hari besar bagi PP. Langitan, karena di hari itu juga biasanya diadakan Haul Langitan. Adapun dalam membaca Ratib al-Haddad ini bisanya dengan mendatangkan salah satu keturunan al-Haddad yang salah satunya adalah bernama Syekh Habib Husain. Setiap kali beliau datang ke PP. Langitan, beliau mengijazah kepada para santri, masyarakat, wali santri, dan para ustadz-ustadazh di sana agar senantiasa mengamalkan pembacaan Ratib al-Haddad secara istiqomah setiap hari satu kali.
Bagi masing-masing individu pondok Langitan, berkembang juga tradisi membaca Ratib al-Haddad setiap harinya. Sedang bagi semua santri tanpa terkecuali biasanya dibaca secara serempak dan bersama-sama pada kamis malam jum’at setelah sholat isya’.
Pembacaan Ratib al-Haddad selain berjalan dan berkembang di PP. Langitan, di desa Pucuk juga berjalan tradisi yang serupa, sedikit perbedaannya hanya pada masalah waktu. Di desa tersebut masyarakat biasanya membaca Ratib al Haddad setelah Shalat Maghrib (Individu), dan dibaca bersama disertai dengan pengajian, dan pembagian makanan pada peserta setiap malam Jum’at Pahing, yang mana menurut mereka (orang NU) berkeyakinan bahawa malam Jum’at Pahing merupakan Lailatul Istima’ yakni malan dimana kebanayakan do’a terkabul.
 Analisis
Setelah dipaparkan panjang lebar mengenai Ratib al-Hadad, dapat difahami bahwa kegiatan pembacaan Ratib al-Haddad ternyata sudah ada sejak 1071 H. Ini berarti menunjukkan bahwa Ratib al-Haddad bukanlah hal yang baru dan tidak merupakan pembacaan yang asal-asalan, sebab semua dasar pengambilan lafadz-lafadz yang ada pada Ratib al-Haddad kesemuanya merujuk pada Al-Qur’an dan juga hadis. Demikian juga dengan faedah yang dan manfaatnya.
Selian itu, pada mulanya pembacaan Ratib al-Haddad di masa al-Habib adalah setelah isya’, namun waktu ini tidaklah mengikat dan mengharuskan pada setiap pembacanya untuk mengikuti apa yang dipaparkan al-Habib, ini ditunjukkan oleh Habib Husain salah satu keturunannya yang ketika beliau mengijazahkan bacaan Ratib al-Haddad pada masyarakat, beliau tidak menjelaskan waktu khusus untuk membacanya, yang terpenting adalah Ratib itu dibaca minmal kali dalam sehari secara istiqamah. Dan sejauh pengamatan dan wawancara yang dilakukan ternyata tradisi membaca Ratib al-Haddad hanya berjalan di kalangan orang NU, adapun untuk selain orang NU, sejauh ini penulis belum menemukan.
Penutup dan Kesimpulan
Dibalik apa (setiap ayat Al Qur’an ) yang telah diturunkan Allah kepada Umat manusia semua itu mengandung hikmah dan rahasia tersendiri, begitu Agung kuasanya, Dia menciptakan bumi serta isinya, penyakit serta obatnya semua itu diturunkan-Nya dengan tidak melebihi batas kemampuan hamba-Nya, yang salah satunya adalah ketika para penduduk Syibam salah satu perkampungan di Hadromaut Yaman dilanda ajaran kesesatan, Allah menurunkan dzkiri-dzikir Al Qur’an melalui prantara salah satu hamba-Nya yang mukmin guna menagkal kesesatan tersebut agar tidak sampai menguasai diri kebanyakan Mukmin. Yang dalam hal ini adalah Ratib al-Haddad. Dalam Ratib al-Haddad banyak terkandung faedah dan manfaat, dan oleh karenanya marilah kita picu diri kita untuk senantiasa mendekatkan diri dengan-Nya dengan memperbanyak dzikir yang salah satunya adalah dengan membaca Ratib al-Haddad. Dan insyaallah dari pembacaan tersebut diri kita akan senantiasa dalam keselamatan dan perlindungannya.

Inilah Ratib Al Haddad yang terkenal itu



Surat Yasin barangkali menjadi salah satu surat dalam al-Qur’an yang paling sering dibaca, bahkan dihafal oleh mayoritas umat muslim. Karena surat ini lazim diamalkan pada tiap-tiap malam Jum’at atau ketika pada acara tahlilan dan acara-acara lainnya. Namun, tahukah kita, apa kandungan sebenarnya dari surat Yasin tersebut, sehingga nabi menganjurkan kita untuk sering membacanya? Bahkan dikatakan surat Yasin itu ibarat jantungnya al-Qur’an.
Melalui kitab tafsir surat Yasin karya Syaikh Hamami Zadah inilah kita akan menggali khazanah surat Yasin yang luar biasa. Kitab ini memang sederhana tapi sebenarnya mengandung pelajaran aqidah dan kesufian yang cukup mendalam.

Kitab ini adalah kitab Fikih yang sangat masyhur, terutama di kalangan pesantren, karena kitab ini menjadi salah satu referensi pembelajaran di pesantren-pesantren. Kitab yang ringkas namun padat ini adalah karya Syaikh al-Imam al-Alim al-Allamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim Asy-Syafi’i. Kitab ini memuat berbagai persoalan fikih terkait banyak hal. Berikut garis besar isinya membahas: Hukum-hukum bersuci, hukum-hukum shalat, hukum-hukum zakat, hukum puasa, hukum haji, hukum jual beli dan berbagai transaksi lainnya.
Hukum-hukum pembagian waris dan wasiat, Perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, hukum-hukum jinayat, berbagai macam hukum Had {hukuman}, Hukum-hukum Jihad, hukum-hukum buruan sembelihan dan makanan, hukum sumpah dan nadzar, hukum peradilan dan persaksian, dan hukum-hukum memerdekaan budak.

Kitab ini banyak dikaji dan dipelajari di berbagai pondok pesantren di nusantara. Kitab ini merupakan salah satu kitab rujukan di bidang fikih. Pembahasan fikih dalam kitab ini cukup lengkap dan mendetail. Berikut adalah rincian garis besarnya:  shalat, wudhu, sujud sahwi, azan dan iqamah, shalat-shalat sunnah, shalat berjamaah, shalat jumat, shalat jenazah, zakat, puasa, iktikaf, haji dan umrah, bab jual beli, bab wakalah dan qiradh, bab ijarah (sewa-menyewa), ariyah (pinjam-meminjam), bab hibah, wakaf, ikrar (pengakuan), wasiat, dan bab faraidh.bab nikah, bab jihad, bab peradilan, bab dakwaan (tuduhan) dan bayinah (alat bukti), dan bab memerdekakan budak.

Kitab ini mengajak memperkuat iman dan keyakinan, dan menjelaskan cara keduanya itu menjadi kuat. Dengan keyakinan yang kuat, hal-hal ukhrawi yang tidak nampak seolah-olah kelihatan, sehingga selalu melihat diri kita - diakhirat menghadap Allah - yang disertai rasa takut (khauf) dan berharap (roja'), juga menjelaskan bagaimana berhubungan dengan Allah maupun kepada sesama manusia. Kita akan selalu mencintai Allah dan menjadikan semua hidup kita untuk mengabdi kepada-Nya, menjalankan hal-hal yang baik, dan meninggalkan hal-hal yang buruk.

Secara etimologi al-mawaidh al-’usfuriyah mempunyai arti nasihat-nasihat ringan. Kitab Kuning Pesantren Ushfuriyah yang tidak terlalu tebal ini merupakan karya dari Syech Muhammad bin Abu Bakar Al-’Ushfury, di dalamnya kitab ini berisi 40 hadits Nabi yang patut kita dijadikan pegangan hidup dan tuntunan bagi kita semua sebagai umat Islam. Untuk menguatkan pemahaman terhadap hadits yang disampaikan dalam kitab ini, maka pengarang selalu menyertakan hikayat atau cerita nyata pada setiap haditsnya, penyertaan hikayat tersebut tentunya yang berhubungan dengan hadits tersebut. Ada kalanya hikayat dalam Kitab Kuning Pesantren Ushfuriyah Terjemah Ma'na Petuk itu bersumber dari hadits nabi, ada pula yang bersumber dari atsar (perkataan para sahabat).

Kitab Kuning Pesantren Fathul Izar ini membahas tentang rahasia-rahasia dan faidah penting yang berkenaan dengan nikah, memuat beberapa faidah penting tentang perkawinan. Meliputi tentang hubungan seks suami istri (bersenggama), rahasia di balik waktu-waktu yang tepat untuk melakukan hubungan seks suami istri, tata cara melakukan hubungan seks suami istri yang baik dan benar yang sesuai dengan syariat islam, serta membahas rahasia-rahasia dan keunikan tersendiri tentang penciptaan seorang gadis. Pada bagian akhir buku ini juga terdapat nasehat-nasehat kepada para pengantin baru.
Kitab Kuning Pesantren Fathul Izar ini adalah kitab yang bisa kita dijadikan referensi bagi kaum muslimin, khususnya untuk pemuda yang akan melangkan ke jenjang permenikahan agar lebih mengerti dan faham didalam menghadapi permasalahan-permasalahan penting tentang perempuan dan permasalahan seks menurut tinjauan agama Islam.

Kitab “Bidayatul Hidayah” karya ulama besar Abu Hamid Muhammad al-Ghazali ini banyak disebut-sebut sebagai Mukadimah Ihya Ulumuddin, karya masterpiece beliau yang sangat monumental itu.
Kitab ini membahas proses awal seorang hamba mendapatkan hidayah dari Allah Ta’ala, dimana sang hamba sangat membutuhkan pertolongan dan bimbingan dari-Nya. Juga menjelaskan seputar halangan maupun rintangan yang tersebar di sekitarnya, yaitu ketika sang hamba berusaha untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta, melalui tata cara dan adab yang benar.
Kitab ini secara garis besar berisi tiga bagian. Yakni, Bagian tentang adab-adab ketaatan, bagian tentang meninggalkan maksiat, dan bagian tentang bergaul dengan manusia, Sang Maha Pencipta, dan sesama makhluk. Menurut al-Ghazali, jika hati kita condong dan ingin mengamalkan apa-apa yang ada di buku ini, maka berarti kita termasuk seorang hamba yang disinari oleh Allah dengan cahaya iman di dalam hati.

Menurut Sayyid Bakri Al-Makki, Dalam Kitab Kifayatul Atqiya Wa Minhajul Ashfiya: "Ada tiga ilmu yang harus dipelajari dan hukumnya "Fardhu 'Ain", yaitu: 1. Ilmu yang dapat menghantarkan kepada sahnya ibadah, yaitu ilmu syari'at atau ilmu fiqih, 2. Ilmu yang dapat menghantarkan kepada sah atau validnya berkeyakinan, yaitu ilmu tauhid atau ilmu aqidah, 3. Ilmu yang dapat membersihkan atau mensucikan hati, yaitu ilmu tasawuf.

Akhlaqul lilbanin adalah sebuah kitab akhlaq kecil yang terdiri dari beberapa bab kitab ini di susun oleh Al Ustadz Umar Achmad Baraja, dengan bahasa arab yang mudah diterjemahkan baik secara inayah maupun lafdziyah, selain mudah diterjemahkan kitab ini juga mudah dicerna isinya, karena bahasanya yang sesuai dengan peruntukannya. Sebagaimana namanya, kitab ini diperuntukkan untuk anak laki-laki (lil banin).
Kitab Sulamuttaufiq yang dikarang oleh Syeikh Abdulloh Bin Husain Bin Thohir Bin Muhammad Bin Hisyam Ba’alawy Adalah Sebuah Kitab Yang Sangat Penting, Yang Isinya Menyangkut Beberapa Kewajiban Bagi Semua Muslim, Mulai Dari Bab Pertama Menerangkan: Kewajiban Bagi Orang Mukallaf. Lalu Bab Kedua: Perihal Tentang Janzah, Bab Ketiga: Tentang Jual-Beli, Bab Ke Empat: Tentang Nafkah, Iman & Ihlas, Murtad. Dan Bab Ke Lima Menerangkan Tentang Taubat.

Kitab Sulam al munajat adalah syarah atas kitab (matan) Safinah al-Shalah karya As-Sayyid 'Abdullah bin 'Umar al-Hadrami. Kitab Safinah al-Shalah berisi tuntunan praktis tentang shalat, dari sejak cara-cara bersuci sampai dengan pelaksanaan shalat, menurut mazhab Imam al-Syafi'i. Mengenai sistematika isinya, kitab matan ini terdiri atas tiga bagian yaitu, pendahuluan, isi, dan penutup. Pendahuluan berisi hamdalah dan shalawat; isi, meliputi dua bagian yaitu, akidah (makna kalimat Syahadatain), dan tuntunan shalat; sedang penutup berisi shalawat. Melihat porsi isi kitab tersebut, tepatlah dikatakan, kitab itu kitab fiqh. Karena singkatnya uraian, maka dalam buku itu tidak menunjukkan dalil-dalil, masalah-masalah, dan alternatif-alternatif yang mungkin ada di luar tuntunan shalat itu sekalipun masih dalam lingkungan mazhab Imam al-Syafi'i.
Syarah Syeikh Nawawi atas masalah – masalah aqidah dan keimanan, seperti masalah rukun iman dan berbagai macam permasalahan yang berkembang,
Sekalipun kitab ini relatif kecil, namun penting untuk kita kaji agar kita dapat menata dan meningkatkan kualitas keimanan.
Kitab ini menyajikan tentang wasiyat Rasul kepada Sayyidina Ali KRW.
Semua mu’min haruslah percaya dengan sesuatu yang ghaib. Dan barang siapa tidak percaya maka dia dikatakan tidak beriman. Sedangkan Mu’jizat Rosul dan karomah para wali itu semua termasuk hal yang ghaib. Kitab ini menerangkan tentang karomah para wali-wali Allah.
15. Mukhtashor Abi Jamroh
Kitab ini menerangkan tentang fadhilah bulan rojab sesuai keterangan dari Al Qur’an, hadits, atsar, dan kisah-kisah.
Dan juga menerangkan tentang puasa pada hari pertama, dan kiyamul-lail pada malam pertama bulan rojab. Dan juga do’a-do’a di dalam bulan rojab. Dan lain-lainnya.
Kitab ini teridiri atas empat pembahasan ditambah denga penutup. Disini akan dikemukakan setitik gambaran tentang wanita yang pada dasarnya terkait dengan pembahasan-pembahasan sebelumnya. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan nilai tambah seperti yang diharapkan, sehingga materi yang disajikan menjadi lebih luas dan sempurna. Adapun mengenai empat pembahasan tersebut adalah sebagai berikut: 1.    Hak istri atas suami, 2.  Hak suami atas istri, 3.   Keutamaan shalat di rumah bagi wanita, dan 4.  Larangan bagi laki-laki melihat wanita lain dan sebaliknya.
Qurratul ‘Uyun karya Syeikh Muhammad Al Tahami bin Madani yang ditulis sebagai uraian penjelasan bagi karya Syaikh Qasim bin Ahmad bin Musa bin Yamun. merupakan khazanah kitab kuning yang termasyhur di pesantren, sebuah panduan untuk menahkodai bahtera rumah tangga dan menuntun langkah dalam menelusuri lika-liku kehidupan seksual: mulai dari keutamaan menikah, memilih jodoh yang sesuai, adab bersetubuh dengan pasangan, posisi-posisi senggama yang paling nikmat, hingga pentingnya puncak kepuasan (orgasme) dicapai secara bersamaan oleh suami-istri.
Qurratul ‘Uyun juga membahas hal ihwal terkait walimah, waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan, saat paling pas untuk bersetubuh, nasihat agar suami-istri saling menyayangi, serta tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak. Dengan kandungan yang padat dan berharga, kitab ini telah dipraktekkan para kiai, santri, dan masyarakat Islam pada umumnya berabad lamanya.
Kitab ini adalah ringkasan tentang ilmu akhlaq ad-diniyyah. Yakni, dasar-dasar ilmu yang untuk memperbaiki hati dan panca indra. Adapun hasil daripada ilmu ini adalah baiknya hati dan semua panca indra yang mengangkat derajat baik di dunia dan akhirat.
Kitab ini menerangkan tentang akhlaq dan tata karma seorang murid dalam mencari ilmu baik kepada guru dan lainnya.
Dan kitab ini dilengkapi dengan terjemah bahasa jawa oleh Ky Muhammad Zubair bin Zain.
Kitab ini menerangkan tentang pendidikan awal dibidang akhlaq yang terpuji. Bagi para pencari ilmu agama.Yang didalamnya berisi adab dalam mencari ilmu sehingga bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Progam Pemula untuk membaca kitab kuning AMTSILATI adalah kitab yang berisi metode praktis untuk mempelajari Al-Qur'an dan membaca kitab kuning, yang di susun oleh KH TAUFIQUL HAKIM.
Kitab yang sangat terkenal dan diajarkan di Madrasah diniyyah awaliyah dan di Pesantren ini di sajikan dengan keterangan bahasa jawa oleh Kh Bisri Musthofa Rembang.dan di beri nama ROWIHATUL AQWAM. Kitab Ini Menerangkan Tentang Ilmu Tauhid dan lebih dikenal dengan 'Aqoid 50.
Kitab ini lazim diajarkan di Pesantren dan madrasah diniyyah Kitab ini biasa disebut dengan Nadhom 'Imrithi. kali ini kami hadirkan dengan makna gandul yang disusun oleh Kyai Muhammad Hasyim al-Padangany.
Ilmu Mantiq, sudah masyhur dikalangan pesantren dan para santri, dikarenakan ilmu ini memiliki tingkat penalaran yang cukup rumit. Dibutuhkan daya fikir yang tinggi guna menguasai disiplin ilmu yang satu ini. Terlepas dari itu semua, terdapat kitab mantiq yang masyhur diajarkan oleh para ustadz dan kiai dipesantren, yaitu IDHOHUL MUBHAM.
Kitab Syarah Mukhtashar Jiddan ‘ala Matni al-Jurumiyyah merupakan sebuah kitab dasar dalam ilmu nahwu yang merupakan sharh dari kitab matan al-jurumiyah karangan Imam al-Shanhaji atau lebih dikenal sebagai Ibnu Ajurum. Kitab ini, sebagaimana kitab matannya, merupakan kitab yang sangat populer di kalangan santri dan termasuk satu dari sekian mata pelajaran yang distandarisasikan untuk kalangan santri pemula di pesantren.
Kitab ini terdiri dari 25 bab dan dilengkapi dengan taqrizdât di bagian awal kitab. Taqridzât ini ditulis oleh salah seorang pecinta muallif yang namanya tidak disebutkan, membahas secara singkat namun menukik pada materi substansial ilmu nahwu. Selanjutnya, dalam taqridzât ini pula disinggung sekilas pertumbuhan embrional ilmu nahwu, yang diawali oleh rintisan seorang sahabat yang bernama Abu al-Aswad al-Duâly, serta hadits-hadits yang menyebut arti penting dan kedudukan ilmu nahwu.
Tuhfah Al-Athfal merupakan salah satu kitab yang didalamnya membahas tentang pelajaran ilmu tajwid dalam bentuk nadhom atau bait-bait menggunakan bahar rojaz. Kitab ini dikarang oleh seorang ulama kenamaan asal Mesir bernama Syeikh Sulaiman Bin Husain Bin Muhammad Aj-Jamjury.
Syekh Nawawi Banten memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad Nawawi ibn Umar al-Tanara al-Jawi al-Bantani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan di kampong Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 M/1230 H. pada tanggal 25 Syawal 1314 H/1897 M. nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir di usia 84 tahun. Ia dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Nabi. Sebagai tokoh kebanggaan umat islam di jawa khususnya di Banten, Syeikh Nawawi telah menulis paling tidak tentang 9 bidang disiplin ilmu pengetahuan, yaitu tafsir, fiqf, ushul al-Din, Ilmu Tauhid (teologi), tasawuf (mistisme), kehidupan Nabi, tata bahasa Arab, Hadits dan akhlak (ajaran moral islam).  Salah satu dari karya beliau adalah Kitab At-Tausyih, Syarh ‘ala Fatkhu al-Qarib al-Mujib. Kitab fiqh ini merupakan komentar terhadap karya Ibn Qasim al-Ghazi.
Kitab Al Waroqot adalah kitab yang membahas tentang ilmu Usul Fiqih karya Abu Al Ma’ali Abdul Malik Imam Al Haromain. Kitab ini adalah salah satu kitab usul fiqih madzhab Syafi’I yang terbaik. Sekalipun kecil, namun padat isinya, besar manfaat dan tampak sekali barokahnya.
Kitab Waroqot Imam Haromain ini memiliki daya tarik yang luar biasa bagi sebagian ulama dan pelajar. Kitab ini hampir menjadi pegangan pokok pelajaran usul fiqih tingkat menengah di seluruh pondok pesantren. Banyak ulama yang mensyarahinya, ada yang luas, ada yang singkat dan ada pula yang berbentuk nadhom. Di antara syarah syarah Al Waroqot yang terbaik adalah syarah yang ditulis oleh Imam Jalaluddin Abdullah bin Muhammad Al Mahalli As Syafi’i, dan kitab syarah Waroqot disyarahi lagi oleh As-Syeikh Ahmad bin Muhammad Ad-Dimyathi.

Kitab Syarh At-Tahrir ‘ala Tuhfah al-Thullab, Yaitu sebuah kitab karya Syaikhul Islam Abu Yahya Zakariya al-Anshori (823-926H)

Inilah Kitab-kitab yang Sering dipakai di Pesantren Indonesia


Anda kagum dengan aset Djarum, Sampoerna, dll? Izinkan saya menyampaikan sesuatu.
64 tahun yang lalu, setelah Buya Hamka bekerjasama dengan Yayasan Al-Azhar Indonesia, kini telah memiliki 150 cabang masjid di Indonesia, belum lagi aset sekolah-sekolahnya: sekarang hampir di tiap provinsi ada Sekolah Al-Azhar. Siapa orang kaya di Indonesia, yang asetnya sebanyak dan semanfaat Al-Azhar?
90 tahun yang lalu setelah sang kiai menyerahkan seluruh tanahnya, dirinya, bahkan anaknya yang masih dalam kandungan, diwakafkan untuk agamanya, 90 tahun kemudian GONTOR punya 20 cabang dan 400 pondok alumni tersebar di seantero nusantara bahkan ada yang di luar negeri. Saya tidak tahu berapa ratus triliun asetnya. Bermula dari tiga orang bersaudara. Sebutkan kepada saya, orang Indonesia dari penjajahan hingga sekarang, yang asetnya sebanyak beliau? Baik secara nilai aset maupun secara manfaat.
Muhammadiyah? Jangan ditanya. 104 tahun yang lalu. KH, Ahmad Dahlan pernah keluar rumah, mengumumkan kepada semua orang, siapa saja yang mau membeli seluruh perabotan yang ada di dalam rumahnya, karena beliau kekurangan dana untuk menggaji guru-guru sekolah Muhammadiyah.
Kini, 104 tahun kemudian Muhammadiyah telah memiliki 10.000 lebih sekolah mulai dari PAUD hingga SMU, 170 lebih universitas, 104 rumah sakit, yang pemerintah Indonesia baru punya 48 rumah sakit vertikal, 300 klinik, 10 Fakultas Kedokteran, 700 dokter dikeluarkan setiap tahunnya. Dan hampir 1000 Triliun nilai aset Muhammadiyah yang baru bisa terhitung dalam bentuk barang dan masih banyak lagi yang tidak terhitung. Maaf, saya belum update data terbaru  amal usaha yang dimiliki ormas ini
NU? Ia sangat mengakar dan berbasis pada pesantren. Jangan tanya jumlah, karena yang pasti sudah tidak bisa dihitung lagi, meskipun data di Kemenag ada sekitar 27 ribu pesantren. Tapi, saya yakin lebih dari jumlah itu. Hampir semuanya tumbuh kembang dari wakaf-wakaf umat, mulai dari wakaf tanah 1 m, hingga ratusan hektar.
NU pun sejak satu dasawarsa terakhir ini giat membangun sekolah-sekolah modern, rumah sakit dan perguruan tinggi. Saya yakin dalam 20 tahun mendatang akan tumbuh ratusan perguruan tinggi dan rumah sakit NU di tanah air. Belum lagi jika kita bicara masjid-masjid yang dikelola ormas Islam yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari ini, berapa nilai asetnya? Yang pasti akan fantastis.
Ada satu contoh lagi yang perlu kusebutkan di sini: Pesantren Darunnajah Jakarta, salah satu pondok alumni Gontor yang moncer. Baru-baru ini, dalam rangka miladnya yang ke-54 ia kembali mewakafkan tanah seluas 602 ha atau senilai Rp. 1,6 Triliun. Sebutkan padaku, siapa yang berani melepas asetnya sebesar 1,6 T dan diwakafkan pada umat? Gila? Tidak! Aku bahkan menyebutkan sangat waras! Saat banyak orang kaya menghamburkan triliunan rupiah untuk judi dan politik, sebuah pesantren berusia 54 tahun kembali mewakafkan angka yang fantastis.
Tahun 2015, aset tanah wakaf Darunnajah mencapai 677,5 hektar yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia seperti di Riau, Kalimantan, Bandung, Jakarta, Bogor, Banten, Lampung, Bengkulu,  dan lain-lain. Seperti induknya, Gontor yang tanah wakafnya telah mencapai ribuan hektar, dan juga mengelola unit usaha yang beragam.
Woouw, pesantren seperti perusahaan ya. Asetnya fantastis. Bedanya, pesantren berasal dari wakaf, perusahaan dari modal. Kalau begitu, berarti umat Islam ini umat yang besar dan kaya dong? Betul sekali! Yang luar biasa dengan aset yang fantastis itu, kiai pendiri, pengasuh dan keluarganya tidak memiliki satu sen pun, karena telah diwakafkan. Ada garis tegas pemisahan harta pribadi dengan harta pondok.
Maka, jangan under-estimate, bahwa pesantren tidak bisa apa-apa. Itu penilaian orang yang tidak paham, atau memang tidak mau paham.
Tazakka, 6 tahun yang lalu hanyalah hamparan tanah kosong yang tak berpenghuni. Dulu, ia adalah sebuah kebun cengkeh milik kakekku, hanya 1,6 ha luasnya yang setelah wafatnya pada 1988 nyaris tak terurus dengan baik. Tahun 2009, aku tekadkan untuk mengubahnya menjadi "kebun manusia"; bukan lagi cengkeh yang akan dipetik, tapi manusia-manusia masa depan yang akan dipanen, 10, 20, atau 30 tahun yang akan datang, bahkan, ya Rabb, mungkin satu abad, atau 10 abad seperti Universitas Al-Azhar di Kairo itu, tempatku dan adik-adikku nyantri.
Kini, wakaf Tazakka terus berkembang: tanah telah menjadi hampir 10 ha, masjid, gedung-gedung asrama santri, ruang-ruang kelas, aula pertemuan, dapur umum santri, kamar mandi, lapangan olah raga, perpustakaan, dan lain sebagainya. Ya Rabb, bisakah seperti Al-Azhar di Kairo, atau Gontor di Ponorogo? Ya Rabb. Entah, apakah aku masih hidup menyaksikannya ataukah aku telah tenang di alam kubur. Ya Rabb.
Buya Hamka seandainya masih hidup, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asyari dan juga Kiai Ahmad Sahal, Kiai Fannanie dan Kiai Imam Zarkasyi, mungkin tidak pusing dengan tax amnesty, karena mereka punya rekening gendut di akhirat dan di dunia, biasa-biasa saja. Sementara yang punya rekening gendut di dunia, pusing di akhiratnya, pusing pula di dunianya.
Seperti yang saya ketahui ada sebuah Hadis Nabi SAW yang intinya: "Ada malaikat Allah yang siap mendoakan orang-orang yang ikhlas di jalan Allah yang tak terhitung jumlahnya."
Itulah jalan kemuliaan para ulama kita terdahulu. Mereka tidak saja mewariskan nilai-nilai kehidupan, tetapi juga mewariskan peradaban. Lalu, pertanyaannya, apa yang sedang dan akan wariskan kepada generasi yang akan datang?
Maka, para ulama kita itu abadi hingga kini. Setidaknya, nama, foto dan silsilahnya masih segar di ingatan seluruh umat dan bangsa ini. Dengan begitu, mereka selalu didoakan. Duh, nikmatnya mereka, tiap saat kuburnya basah dan _jembar_ (lapang) karena kiriman doa-doa umatnya yang terus-menerus tiada henti. Bisakah kita kelak seperti mereka? Ya Rabb!
Itulah jalan wakaf, membentang ke depan tak berujung. Wakaf itu seperti --meminjam istilah Taufik Ismail-- "Sajadah Panjang", tempat kita menghamparkan diri berinvestasi untuk akhirat yang abadi. Harta yang kita wakafkan tidak hilang, tapi tersimpan dalam rekening akhirat. Ibarat sebuah transaksi di bank, para malaikat itulah yang bertugas sebagai teller-tellernya.
Aku hanya bisa berdoa, semoga kita semua ini menjadi batu-batu pondasi untuk sebuah peradaban masa depan yang Islami. Apapun yang telah kita ikhlaskan dalam bentuk wakaf: aset, uang tunai, tenaga, pikiran, akses jaringan, keahlian, manfaat dan lain sebagainya, semoga itu semua menjadi catatan kebaikan dalam timbangan di akhirat kelak.
Aku tidak tahu berapa nama yang harus kusebut dalam terima kasihku atasnama umat, juga dalam doa-doa terbaikku dan doa-doa santri-santriku. Tapi, Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui apa yang dikerjakan hamba-hamba-Nya. Ya Rabb.
Wakaf memang mengagumkan! Sayang, belum banyak yang mengerti dan melakukannya!
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
_Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya._ _(Qs. Ali Imran [3]: 92)_
_"Jika anak Adam mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakannya."_ _(Muttafaqun Alaih)_
Ya Allah, terimalah ibadah dan amal saleh kami. _Ya Rabb, wa-taqabbal du'a._
يا رب. إلهي أنت مقصودي ورضاك مطلوبي.
Anang Rikza Masyhadi
Gambir, 26 Sept 2016

Dahsyatnya Wakaf yang membuat orang Indonesia terkenal di dunia