Showing posts with label Pesan. Show all posts
Showing posts with label Pesan. Show all posts

“Ballighu ‘Anni Walau Ayah” Bukan Begitu Penerapannya: Perlukah Broadcast di Grup WhatsApp?

Pernahkah Anda menerima pesan broadcast di grup WhatsApp yang isinya panjang, penuh nasihat, atau kutipan hadis? Niat pengirimnya seringkali untuk berbagi kebaikan, tapi kenyataannya tidak selalu berjalan mulus. Sebagian anggota grup mungkin merasa terbantu, sementara sebagian lainnya justru terganggu. Lalu, bagaimana sebenarnya adab berbagi pesan seperti ini? Apakah benar “Ballighu ‘Anni Walau Ayah” menjadi dalil untuk membenarkan segala bentuk penyebaran informasi?


Arti dan Makna “Ballighu ‘Anni Walau Ayah”

Hadis Rasulullah SAW berbunyi:
“Sampaikan dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)

Hadis ini sering digunakan untuk mendukung penyebaran ilmu agama, bahkan dalam bentuk broadcast di media sosial atau grup WhatsApp. Namun, penerapan hadis ini harus dipahami dengan benar. Rasulullah SAW tidak hanya memerintahkan penyampaian ilmu, tetapi juga mengajarkan pentingnya adab, ketepatan, dan pemahaman yang mendalam terhadap ilmu yang disampaikan.

Mengutip sebuah ayat atau hadis tanpa pemahaman yang cukup, apalagi dalam konteks yang salah, bisa menyebabkan kesalahpahaman bahkan fitnah. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui kapan, kepada siapa, dan bagaimana cara menyampaikan ilmu.


Perlukah Broadcast Pesan di Grup WhatsApp?

Broadcast pesan di grup WhatsApp bisa menimbulkan pro dan kontra. Berikut beberapa pertimbangannya:

1. Profil dan Peruntukan Grup

Setiap grup memiliki tujuan yang berbeda. Ada grup keluarga, komunitas hobi, rekan kerja, atau khusus membahas agama. Sebelum membagikan pesan, pahami terlebih dahulu apakah isi broadcast sesuai dengan tujuan grup tersebut. Misalnya, membagikan nasihat agama di grup keluarga mungkin lebih diterima dibanding di grup kerja yang fokus pada diskusi profesional.

2. Relevansi dan Kebutuhan Penerima

Tidak semua anggota grup membutuhkan atau tertarik dengan pesan yang dibagikan. Meskipun isi pesan bernilai kebaikan, tanpa relevansi yang jelas, pesan tersebut bisa dianggap mengganggu. Bahkan, dalam beberapa kasus, bisa memicu perasaan tersinggung atau salah paham.

3. Potensi Overload Informasi

Jika setiap anggota grup membagikan pesan secara berlebihan, grup bisa kehilangan fungsinya sebagai ruang komunikasi yang sehat. Overload informasi akan membuat anggota grup merasa jenuh dan malas membaca pesan penting.


Pentingnya Memahami Isi Pesan Sebelum Membagikannya

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang bisa kita tanyakan sebelum memutuskan untuk membagikan pesan di grup WhatsApp:

  • Apakah saya benar-benar memahami isi pesan ini?
    Jangan asal menyebarkan pesan tanpa memahami isinya. Pesan yang baik sekalipun bisa menjadi bumerang jika kita tidak mengerti konteksnya.
  • Apakah sumber pesan ini valid?
    Informasi agama harus merujuk pada sumber yang terpercaya, seperti Al-Qur’an, hadis shahih, atau penjelasan ulama yang kompeten. Jangan asal copas tulisan dari internet atau media sosial tanpa memeriksa kebenarannya.
  • Apakah pesan ini relevan bagi penerima?
    Pastikan pesan yang kita bagikan sesuai dengan kebutuhan atau minat anggota grup.
  • Apakah niat saya benar?
    Jika niatnya hanya untuk terlihat “berilmu” atau ingin mendapat pujian, lebih baik urungkan niat tersebut. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap amal dinilai berdasarkan niatnya.

Bijak dalam Berbagi: Adab dalam Penyampaian Ilmu

Hadis “Ballighu ‘Anni Walau Ayah” bukan berarti kita bebas menyebarkan apa saja tanpa batasan. Ada beberapa adab yang perlu diperhatikan:

  1. Berbagi Sesuai Kapasitas Ilmu
    Jika kita tidak yakin dengan isi pesan, lebih baik jangan dibagikan. Ilmu yang disampaikan harus dipahami dengan baik agar tidak menyesatkan.
  2. Pilih Waktu dan Tempat yang Tepat
    Sesuaikan pesan dengan kondisi dan kebutuhan anggota grup. Jangan membagikan pesan di waktu yang kurang tepat atau di grup yang tidak relevan.
  3. Hindari Berlebihan dalam Berbagi
    Membanjiri grup dengan banyak pesan dalam waktu singkat justru akan mengganggu kenyamanan anggota lain.
  4. Hormati Hak Orang Lain
    Tidak semua orang suka menerima broadcast. Sebelum membagikan pesan, pikirkan dampaknya bagi penerima.

Informasi Mudah Didapat, Mengapa Tidak Mencari Sendiri?

Di era digital, informasi sangat mudah diakses. Tinggal membuka mesin pencari seperti Google, kita bisa mendapatkan banyak referensi tentang topik yang ingin dipelajari. Hal ini membuat broadcast berlebihan menjadi tidak relevan bagi sebagian orang.

Alih-alih membagikan pesan secara massal, lebih baik kita memberikan referensi terpercaya kepada orang yang memang membutuhkannya. Dengan begitu, ilmu yang dibagikan akan lebih bermanfaat dan tepat sasaran.


Kesimpulan

Meskipun berbagi ilmu adalah hal yang baik, penerapannya tetap harus bijaksana. Hadis “Ballighu ‘Anni Walau Ayah” mengajarkan pentingnya menyampaikan ilmu, tetapi dengan adab dan pemahaman yang benar. Jangan asal membagikan pesan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Sebagai seorang Muslim, mari kita berusaha menjadi teladan dalam menyampaikan kebaikan. Berbagi ilmu bukan hanya soal menyebarkan informasi, tetapi juga memastikan ilmu tersebut bermanfaat, relevan, dan tidak menimbulkan salah paham. Wallahu a’lam bishawab.

“Ballighu ‘Anni Walau Ayah” bukan begitu penerapannya


Pesan Guru kita yang Mulia Maulana Habib Luthfi bin Yahya. Di hari pahlawan.
Wahai bangsaku yang kubanggakan! Keringat telah kami kucurkan, darah telah kami teteskan. Kami persatukan kalian dari Sabang sampai Merauke, berkibarlah kembali sangsaka merah putih."
Pesan kami kepada kalian, " jangan kecewakan kami."

Itulah harapan para pejuang.
Bangsa yang kuat, bangsa yg fanatik terhadap bangsanya, dan itu adalah benteng yang paling luar biasa.
Jika rasa memiliki bangsa ini kian luntur maka

“menghancurkan indonesia tidak perlu pakai bom, cukup pakai hoax, hancurlah bangsa ini”.
Wahai bangsaku yang kubanggakan, relakah negeri ini terpecah belah?” tanya beliau. “Tidaak…” jawab hadirin dengan tegas. “Mestinya harus kita buktikan kalau kita mengatakan tidak,
 Presidennya boleh siapapun, tapi indonesia cuma satu.
Partai boleh bubar, Indonesia tak akan bubar, silahkan bendera banyak dari golongan, ormas atau partai tapi ingat merah putih cuma satu. Mari kita jaga tegaknya sangsaka merah putih. Tunjukkan kami putera putri patriotisme bangsa yang mulia ini, ”

Pesan Guru kita yang Mulia Maulana Habib Luthfi bin Yahya di hari pahlawan.


Anda kagum dengan aset Djarum, Sampoerna, dll? Izinkan saya menyampaikan sesuatu.
64 tahun yang lalu, setelah Buya Hamka bekerjasama dengan Yayasan Al-Azhar Indonesia, kini telah memiliki 150 cabang masjid di Indonesia, belum lagi aset sekolah-sekolahnya: sekarang hampir di tiap provinsi ada Sekolah Al-Azhar. Siapa orang kaya di Indonesia, yang asetnya sebanyak dan semanfaat Al-Azhar?
90 tahun yang lalu setelah sang kiai menyerahkan seluruh tanahnya, dirinya, bahkan anaknya yang masih dalam kandungan, diwakafkan untuk agamanya, 90 tahun kemudian GONTOR punya 20 cabang dan 400 pondok alumni tersebar di seantero nusantara bahkan ada yang di luar negeri. Saya tidak tahu berapa ratus triliun asetnya. Bermula dari tiga orang bersaudara. Sebutkan kepada saya, orang Indonesia dari penjajahan hingga sekarang, yang asetnya sebanyak beliau? Baik secara nilai aset maupun secara manfaat.
Muhammadiyah? Jangan ditanya. 104 tahun yang lalu. KH, Ahmad Dahlan pernah keluar rumah, mengumumkan kepada semua orang, siapa saja yang mau membeli seluruh perabotan yang ada di dalam rumahnya, karena beliau kekurangan dana untuk menggaji guru-guru sekolah Muhammadiyah.
Kini, 104 tahun kemudian Muhammadiyah telah memiliki 10.000 lebih sekolah mulai dari PAUD hingga SMU, 170 lebih universitas, 104 rumah sakit, yang pemerintah Indonesia baru punya 48 rumah sakit vertikal, 300 klinik, 10 Fakultas Kedokteran, 700 dokter dikeluarkan setiap tahunnya. Dan hampir 1000 Triliun nilai aset Muhammadiyah yang baru bisa terhitung dalam bentuk barang dan masih banyak lagi yang tidak terhitung. Maaf, saya belum update data terbaru  amal usaha yang dimiliki ormas ini
NU? Ia sangat mengakar dan berbasis pada pesantren. Jangan tanya jumlah, karena yang pasti sudah tidak bisa dihitung lagi, meskipun data di Kemenag ada sekitar 27 ribu pesantren. Tapi, saya yakin lebih dari jumlah itu. Hampir semuanya tumbuh kembang dari wakaf-wakaf umat, mulai dari wakaf tanah 1 m, hingga ratusan hektar.
NU pun sejak satu dasawarsa terakhir ini giat membangun sekolah-sekolah modern, rumah sakit dan perguruan tinggi. Saya yakin dalam 20 tahun mendatang akan tumbuh ratusan perguruan tinggi dan rumah sakit NU di tanah air. Belum lagi jika kita bicara masjid-masjid yang dikelola ormas Islam yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari ini, berapa nilai asetnya? Yang pasti akan fantastis.
Ada satu contoh lagi yang perlu kusebutkan di sini: Pesantren Darunnajah Jakarta, salah satu pondok alumni Gontor yang moncer. Baru-baru ini, dalam rangka miladnya yang ke-54 ia kembali mewakafkan tanah seluas 602 ha atau senilai Rp. 1,6 Triliun. Sebutkan padaku, siapa yang berani melepas asetnya sebesar 1,6 T dan diwakafkan pada umat? Gila? Tidak! Aku bahkan menyebutkan sangat waras! Saat banyak orang kaya menghamburkan triliunan rupiah untuk judi dan politik, sebuah pesantren berusia 54 tahun kembali mewakafkan angka yang fantastis.
Tahun 2015, aset tanah wakaf Darunnajah mencapai 677,5 hektar yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia seperti di Riau, Kalimantan, Bandung, Jakarta, Bogor, Banten, Lampung, Bengkulu,  dan lain-lain. Seperti induknya, Gontor yang tanah wakafnya telah mencapai ribuan hektar, dan juga mengelola unit usaha yang beragam.
Woouw, pesantren seperti perusahaan ya. Asetnya fantastis. Bedanya, pesantren berasal dari wakaf, perusahaan dari modal. Kalau begitu, berarti umat Islam ini umat yang besar dan kaya dong? Betul sekali! Yang luar biasa dengan aset yang fantastis itu, kiai pendiri, pengasuh dan keluarganya tidak memiliki satu sen pun, karena telah diwakafkan. Ada garis tegas pemisahan harta pribadi dengan harta pondok.
Maka, jangan under-estimate, bahwa pesantren tidak bisa apa-apa. Itu penilaian orang yang tidak paham, atau memang tidak mau paham.
Tazakka, 6 tahun yang lalu hanyalah hamparan tanah kosong yang tak berpenghuni. Dulu, ia adalah sebuah kebun cengkeh milik kakekku, hanya 1,6 ha luasnya yang setelah wafatnya pada 1988 nyaris tak terurus dengan baik. Tahun 2009, aku tekadkan untuk mengubahnya menjadi "kebun manusia"; bukan lagi cengkeh yang akan dipetik, tapi manusia-manusia masa depan yang akan dipanen, 10, 20, atau 30 tahun yang akan datang, bahkan, ya Rabb, mungkin satu abad, atau 10 abad seperti Universitas Al-Azhar di Kairo itu, tempatku dan adik-adikku nyantri.
Kini, wakaf Tazakka terus berkembang: tanah telah menjadi hampir 10 ha, masjid, gedung-gedung asrama santri, ruang-ruang kelas, aula pertemuan, dapur umum santri, kamar mandi, lapangan olah raga, perpustakaan, dan lain sebagainya. Ya Rabb, bisakah seperti Al-Azhar di Kairo, atau Gontor di Ponorogo? Ya Rabb. Entah, apakah aku masih hidup menyaksikannya ataukah aku telah tenang di alam kubur. Ya Rabb.
Buya Hamka seandainya masih hidup, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asyari dan juga Kiai Ahmad Sahal, Kiai Fannanie dan Kiai Imam Zarkasyi, mungkin tidak pusing dengan tax amnesty, karena mereka punya rekening gendut di akhirat dan di dunia, biasa-biasa saja. Sementara yang punya rekening gendut di dunia, pusing di akhiratnya, pusing pula di dunianya.
Seperti yang saya ketahui ada sebuah Hadis Nabi SAW yang intinya: "Ada malaikat Allah yang siap mendoakan orang-orang yang ikhlas di jalan Allah yang tak terhitung jumlahnya."
Itulah jalan kemuliaan para ulama kita terdahulu. Mereka tidak saja mewariskan nilai-nilai kehidupan, tetapi juga mewariskan peradaban. Lalu, pertanyaannya, apa yang sedang dan akan wariskan kepada generasi yang akan datang?
Maka, para ulama kita itu abadi hingga kini. Setidaknya, nama, foto dan silsilahnya masih segar di ingatan seluruh umat dan bangsa ini. Dengan begitu, mereka selalu didoakan. Duh, nikmatnya mereka, tiap saat kuburnya basah dan _jembar_ (lapang) karena kiriman doa-doa umatnya yang terus-menerus tiada henti. Bisakah kita kelak seperti mereka? Ya Rabb!
Itulah jalan wakaf, membentang ke depan tak berujung. Wakaf itu seperti --meminjam istilah Taufik Ismail-- "Sajadah Panjang", tempat kita menghamparkan diri berinvestasi untuk akhirat yang abadi. Harta yang kita wakafkan tidak hilang, tapi tersimpan dalam rekening akhirat. Ibarat sebuah transaksi di bank, para malaikat itulah yang bertugas sebagai teller-tellernya.
Aku hanya bisa berdoa, semoga kita semua ini menjadi batu-batu pondasi untuk sebuah peradaban masa depan yang Islami. Apapun yang telah kita ikhlaskan dalam bentuk wakaf: aset, uang tunai, tenaga, pikiran, akses jaringan, keahlian, manfaat dan lain sebagainya, semoga itu semua menjadi catatan kebaikan dalam timbangan di akhirat kelak.
Aku tidak tahu berapa nama yang harus kusebut dalam terima kasihku atasnama umat, juga dalam doa-doa terbaikku dan doa-doa santri-santriku. Tapi, Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui apa yang dikerjakan hamba-hamba-Nya. Ya Rabb.
Wakaf memang mengagumkan! Sayang, belum banyak yang mengerti dan melakukannya!
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
_Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya._ _(Qs. Ali Imran [3]: 92)_
_"Jika anak Adam mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakannya."_ _(Muttafaqun Alaih)_
Ya Allah, terimalah ibadah dan amal saleh kami. _Ya Rabb, wa-taqabbal du'a._
يا رب. إلهي أنت مقصودي ورضاك مطلوبي.
Anang Rikza Masyhadi
Gambir, 26 Sept 2016

Dahsyatnya Wakaf yang membuat orang Indonesia terkenal di dunia

7 Kitab Dasar yang Diajarkan di Pesantren
Dalam dunia pesantren khususnya pesantren salaf, kitab kuning menjadi rujukan utama. Yang menarik, kitab kuning yang diajarkan telah memiliki umur yang cukup lama, hingga ratusan tahun tetap terjaga keasliannya. Berikut akan kami share tujuh kitab dasar yang dipelajari di pesantren salaf dari berbagai macam cabang ilmu agama.
1. Kitab Al-Jurumiyah
Salah satu kitab dasar yang mempelajari ilmu nahwu. Setiap santri yang menginginkan belajar kitab kuning wajib belajar dan memahami kitab ini terlebih dahulu. Karena tidak mungkin bisa membaca kitab kuning tanpa belajar kitab Jurumiyah, ppedoman dasar dalam ilmu nahwu. Adapun tingkatan selanjutnya setelah Jurumiyah adalah Imrithi, Mutamimah, dan yang paling tinggi adalah Alfiyah. Al-Jurumiyah dikarang oleh Syekh Sonhaji dengan memaparkan berbagai bagian di dalamnya yang sistematis dan mudah dipahami.
2. Kitab  Amtsilah At-Tashrifiyah
Jika nahwu adalah ibunya, maka shorof bapaknya. Begitulah hubungan kesinambungan antara dua jenis ilmu itu. Keduanya tak bisa dipisahkan satu sama yang lainnya dalam mempelajari kitab kuning. Salah satu kitab yang paling dasar dalam mempelajari ilmu shorof adalah Kitab Amtsilah Tashrifiyah yang dikarang salah satu ulama Indonesia, beliau KH. Ma’shum ‘Aly dari Jombang. Kitab tersebut sangat mudah dihafalkan karena disusun secara rapi dan bisa dilagukan dengan indah.
3. Kitab Mushtholah Al-hadits
Kitab dasar selanjutnya adalah Kitab Mushtholah Al-Hadits yang mempelajari ilmu mengenai seluk beluk ilmu hadits. Mulai dari macam-macam hadits, kriteria hadits, syarat orang yang berhak meriwayatkan hadits dan lain-lain dapat dijadikan bukti kevalidan suatu matan hadits. Kitab ini dikarang oleh al-Qodhi abu Muhammad ar-Romahurmuzi yang mendapatkan perintah dari Kholifah Umar bin Abdul Aziz karena pada waktu itu banyak orang yang meriwayatkan hadist-hadist palsu.
4. Kitab Arba’in Nawawi
Pada kitab yang telah disebutkan di atas merupakan kitab dasar dalam menspesifikasikan kedudukan hadits. Berbeda lagi dengan kitab matan hadits yang harus dipelajari di dunia pesantren, yaitu Kitab Arba’in Nawawi karangan Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri Al Nizami An-Nawawi yang berisi 42 matan hadits. Selain itu beliau juga mengarang berbagai kitab antara lain Riyadhus Sholihin,  Al-Adzkar, Minhajut Tholibin, Syarh Muslim, dan lain-lain. Muatan tema yang dihimpun dalam kitab ini meliputi dasar-dasar agama, hukum, muamalah, dan akhlak
5. Kitab At-Taqrib
Fiqh merupakan hasil turunan dari Al-Quran dan Al-Hadist setelah melalui berbagai paduan dalam ushul fiqh. Kitab Taqrib yang dikarang oleh Al-Qodhi Abu Syuja’ Ahmad bin Husain bin Ahmad Al-Ashfahaniy adalah kitab fiqh yang menjadi rujukan dasar dalam mempelajari ilmu fiqh. Di atas Kitab Taqrib ada Kitab Fathul Qorib, Tausyaikh, Fathul Mu’in, dan semuanya itu syarah atau penjelasan dari At-Taqrib.
6. Kitab Aqidatul Awam
Hal mendasar dalam agama adalah kepercayaan atau aqidah. Apabila aqidah sudah mantap, kuat dan benar maka dalam menjalani syariat agama tidak akan menyeleweng dari aturan syariat yang telah ditentukan. Kitab dasar aqidah yang dipelajari dipesantren adalah kitab Aqidatul Awam karangan Syaikh Ahmad Marzuqi Al-Maliki berisi 57 bait nadzom. Kitab ini dikarang atas perintah Rasulullah yang mendatangi sang pengarang melalui mimpinya. Hingga beliau mampu menyelesaikan kitab tersebut sebagai acuan sumber literasi ilmu Aqidah di berbagai tempat.
7. Kitab Ta’limul Muta’alim
Sepandai apapun manusia serta sebanyak apapun ilmu yang dikuasainya, semuanya tidak akan bisa menghasilkan sarinya ilmu tanpa adanya akhlaq. Hal dasar bagi para pencari ilmu agar ilmunya manfaat dan barokah adalah harus mengutamakan akhlaq. Kitab dasar yang menerangkan mengenai akhlaq di dunia pesantren adalah kitab Ta’limul-Muta’alim karangan Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Setiap awal proses belajar di pesantren sesuai adatnya pasti mempelajari kitab ini ataupun kitab lain yang seakar dengan Ta’limul Muta’alim, seperti kitab Adabul ‘alim wal Muta’alim karangan ulama’ besar Indonesia, Pahlawan Nasional sekaligus pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Kedua kitab ini pun juga menjadi kurikulum wajib bagi pesantren yang ada di Indonesia bahkan hingga luar negeri.
Sungguh kaya khazanah ilmu pengetahuan Islam yang ada di dunia pesantren. Ada sekitar 200 judul kitab dipelajari di pesantren menurut data yang pernah dikemukakan oleh Gus Dur. Kalangan pesantren terus berupaya agar kebudayaan pesantren ini dapat eksis di tengah perubahan zaman dan globalisasi. Literasi kebudayaan salaf ini mampu menunjukkan kiprah para ulama sebagai warotsatul ambiya’ (pewaris para Nabi). Wallahua’lam bishshowab.

7 Kitab pokok di Pesantren



السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sekedar info

Indonesia sedang memprogramkan Nusantara Mengaji, yaitu program khataman Al-Qur'an secara serentak sebanyak 300.000 kali khatam dlm wkt yg sama tgl 7-8 Mei 2016, diikuti oleh pembaca Al-Qur'an dari Sabang sampai Merauke.
Tujuannya berdoa bersama, bermunajat utk kebaikan bangsa dan negara. Siapa saja bisa berpartisipasi menjadi bagian dari khataman ini. Minimal membaca 1 juz Al-Qur'an sesuai kemampuan jumlah juz yg akan dibaca. Boleh dibaca di mana saja tp dlm wkt yg sama: 7-8 Mei 2016.
Jika berminat menjadi bagian dari 300.000 pengkhatam Al-Qur'an secara serentak, silakan daftar di www.nusantaramengaji.com
Nanti akan disms oleh panitia, juz berapa yg akan Anda baca.
Jika tidak berminat, lupakan saja. Terimakasih sdh membaca pesan ini.
Demikian, trima kasih.
Silakan daftar di:
http://reg.nusantaramengaji.com/node/add/formulir-pendaftaran
Sebarkan jika berminat.

Terima kasih.


والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saatnya Nusantara mengaji


ANDAI AJAL DALAM TIDUR
“ Ya, Aisyah! Jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara yaitu :
“Ya Rasulullah ! bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika? “
Seakan-akan engkau telah meng-khatamkan Al-Quran
” Bismillaahirrahmaa nirrahiim,
‘Qul huallaahu ahad’ Allaah hussamad’
lam yalid walam yuulad’
walam yakul lahuu kufuwan ahad’ ( 3x ) “
“ Bismillaahirrahmaa nirrrahiim, Allaahumma shallii ‘alaa saiyyidina Muhammad wa’alaa aalii saiyyidina Muhammad ( 3x ) “
“ Astaghfirullaah hal 'adziim al lazhii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum wa atuubu ilaih ( 3x )
“ Bismillaahirrahmaa nirrrahiim
Subhanallaah Walhamdulillaah Walaa ilaaha illallaah hu wallah hu akbar "
( 3x )
maka ini akan menjadi sedekah jariah pada setiap orang yang anda kirimkan pesan ini, dan apabila kemudian dia mengamalkannya, maka kamu juga akan ikut mendapat ganjaran pahalanya insya Allah...


EMPAT PERKARA SEBELUM TIDUR WALAU SESIBUK MANAPUN DENGAN TUGAS HARIAN.
Rasulullah berpesan kepada siti Aisyah ra.
1. Sebelum khatam al-Quran.
2. Sebelum menjadikan para nabi bersyafaat untukmu di hari kiamat.
3. Sebelum para muslimin meredhai engkau.
4. Sebelum engkau melaksanakan haji dan umrah".
Bertanya Siti Aisyah :
Rasulullah tersenyum dan bersabda :
1. “Jika engkau akan tidur,bacalah surah al –Ikhlas tiga kali
2. "Bacalah shalawat untukku dan untuk para nabi sebelum aku" maka kami semua akan memberimu syafaat di hari kiamat
3. “Beristighfarlah” untuk para mukminin maka mereka akan meredhai engkau
4. Dan perbanyaklah “bertasbih, bertahmid , bertahlil dan bertakbir” maka seakan-akan engkau telah melaksanakan ibadah haji dan umrah
Sampaikanlah kepada orang lain,

RENUNGAN TENGAH MALAM